Site Loader
Senjata Nuklir Negara Islam Disoal, Mengapa Israel Selalu Aman?

WE Online, Jakarta

Pada 27 September 2013, Dewan Keamanan (DK) PBB mengeluarkan Resolusi 2118 tentang senjata kimia Suriah. Teks Resolusi itu memiliki dua tuntutan yang mengikat secara hukum.

Pertama, Suriah harus menyerahkan semua cadangan senjata kimia mereka. Kedua, para pakar senjata kimia internasional diberikan akses seluas-luasnya untuk memastikan hal itu dilakukan.

Baca Juga: Kesepakatan Nuklir Bakal Kedaluwarsa, AS Tolak Perpanjang Jika…

Ini adalah resolusi pertama yang dikeluarkan PBB tentang konflik Suriah yang telah berlangsung selama 2,5 tahun, yang menewaskan lebih dari 100 ribu orang dan lebih dari satu juta orang lainnya menjadi pengungsi. Resolusi itu mengacu juga pada Bab 7 Piagam PBB yang memungkinkan penggunaan kekuatan militer.

Tiga hari sebelumnya, anggota Majelis Umum PBB, termasuk Amerika Serikat  dan sekutu Baratnya, menyambut pidato Presiden baru Iran Hassan Rouhani yang simpatik.

Ia bersedia merundingkan masalah program nuklir Iran dengan lima anggota tetap DK PBB, yaitu Amerika Serikat, Rusia, Cina, Prancis, dan Inggris, ditambah Jerman, yang dikenal sebagai 5+1. Rouhani malah meminta agar isu ini bisa diselesaikan dalam waktu tiga-enam bulan.

Ia bersedia memberikan konsesi signifikan yang dikatakan telah disetujui oleh pemimpin tertinggi Iran Ayatullah Ali Khamenei. Sebenarnya, sebagai anggota NPT (Perjanjian Non-Proliferasi Senjata Nuklir), Iran berhak mengembangkan program nuklir untuk tujuan damai.

Iran juga memperkaya uranium hingga 20 persen, yang dibenarkan bagi anggota NPT. Masalahnya, Amerika Serikat dan sekutu Baratnya tidak percaya bahwa program nuklir Iran itu benar-benar bertujuan damai.

Sikap keras Iran ini mengakibatkan Barat menjatuhkan berbagai sanksi. Terakhir, Barat menjatuhkan sanksi  ekonomi yang menghentikan impor minyak Iran. Barat masih percaya bahwa sanksi dapat memaksa Iran menyetujui tuntutan Barat, di antaranya menghentikan program pengayaan uranium, menutup instalasi nuklir bawah tanah di Fordo, dekat Qum, dan menyerahkan uranium yang sudah diperkaya ke PBB.

Israel malah mendesak Amerika Serikat agar melancarkan serangan militer ke situs-situs nuklir Iran, namun Amerika Serikat menahan diri karena risikonya terlalu besar. Tapi, Amerika Serikat menyatakan opsi militer masih terbuka dan akan digunakan kalau sanksi ekonomi dan upaya diplomatik tak dapat menyelesaikan isu ini.

Ternyata sanksi ekonomi Barat atas Iran berbuah hasil. Negara Teluk Persia inipun kehilangan 20 persen devisa dari ekspor minyaknya. Karena tekanan Amerika Serikat, Cina, Korea, dan Jepang juga mengurangi impor minyak Iran.

Sementara itu, muncul pertanyaan bagaimana dengan Israel yang memiliki sekitar 200-300 hulu ledak nuklir?

Gregory Jenkins