Site Loader
RS Royal Surabaya Beri Penjelasan Soal Cuitan Dokternya yang Bikin Heboh

WE Online, Jakarta

Manajemen Rumah Sakit Royal Surabaya bertindak cepat setelah salah kepala dokternya, Aditya C Janottama, menyampaikan kritikan terhadap Pemerintah Kota Surabaya terkait penanganan Covid-19. Kritikan itu melalui akun Twitternya, @cakasana.

Manajemen RS Royal tepat memanggil dan mengklarifikasi Aditya. Aditya mencuit karena kekeliruan informasi. Ia pun dijatuhi sanksi.

Baca Juga: Surabaya Terancam Jadi Wuhan, Gugus Tegas: Tanpa Main-main!

Ditujukan kepada Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini, RS Royal secara formal menyampaikan klarifikasi melalui surat bernomor 180. RS-R. 05. 2020. Lima poin tertulis dalam surat tersebut.

Pertama, dijelaskan kalau Aditya C Janottama benar sebagai karyawan di RS Royal Surabaya yang bertugas sebagai dokter bangun di IGD. Kedua, RS Serba banyak membantah pernyataan Aditya di akun Twitternya, @cakasana, bahwa RS Royal tidak menerima bantuan alat penjaga diri atau APD dari Pemkot Surabaya.

Manajemen RS Royal menganggap pernyataan tersebut merupakan bersifat pribadi. Karenanya, pada poin ketiga RS Royal menyampaikan bahwa pihaknya tidak bertanggung jawab berasaskan pernyataan Aditya tersebut.

Juru bicara RS Royal Surabaya, Dewa Nyoman Sutanaya, membenarkan bahwa surat klarifikasi yang beredar tersebut resmi dikeluarkan rumah sakitnya. “Iya, kami barusan rilis sudah didiskusikan oleh manajemen dan diputuskan sebab direktur, dan juga sudah koordinasi dengan Humasnya Kota (Pemkot) Surabaya, ” katanya, Kamis (28/5/2020).

Ia mengaku manajemen RS Royal langsung memanggil dan menjelaskan Aditya begitu cuitannya heboh dalam dunia maya. Hasil klarifikasi, Aditya tidak menerima informasi bahwa RS Royal sudah menerima bantuan APD dari Pemkot Surabaya.

“Mungkin saat distribusi (APD, Aditya) tidak kebagian, dokter yang kebagian yang lain. Kan yang dapat APD bukan cuman dokter, ada pembela nakes yang lain. Mungkin lupa pahamnya di situ, ” kata pendahuluan Dewa.

Dewa mengaku, selama pandemi Coronavirus Disease 2019 atau Covid-19, RS Royal Surabaya menyambut bantuan APD dari sejumlah donator, tidak hanya dari Pemkot Surabaya. Adapun dari Pemkot Surabaya yaitu APD seperti baju hazmat, hand sanitizer , kedok, face shield , dan lainnya.

“Pemkot (bantu) APD, juga (wedang) jahe dan telur, walaupun sekarang beradu, ” ujarnya.

Sandaran APD dari sejumlah donator, cantik pemerintah maupun lembaga donasi yang lain, itu lantas ditampung di gudang logistik RS Royal Surabaya. Lantaran situ kemudian manajemen mendistribusikannya ke seluruh tenaga kesehatan.

Nah, para tenaga kesehatan dengan memperoleh APD tidak diberitahu pokok APD tersebut. “(Distribusi APD) Dipilih berdasarkan tempat-tempat yang membutuhkan, ” katanya.

Sebelumnya, netizen Surabaya, Jawa Timur, dihebohkan cuitan akun Twitter @cakasana (Aditya C Janottama), seorang dokter di RS Royal Surabaya, pada Rabu, 27 Mei 2020, yang mengkritik pengerjaan Coronavirus Disease 2019 atau Covid-19 sebab Pemerintah Kota Surabaya. Pihak pemkot langsung merespons dan menyangkal maklumat yang dicuitkan Aditya.

Cuitan itu diunggah Aditya di akun Twitternya pada Selasa kemarin, 26 Mei 2020. Ia memulai unggahannya dengan kalimat sebagai berikut:

“Oke kalau gitu mulai saja… SEBUAH UTAS tentang bobroknya penanganan COVID-19. Selanjutnya, dia menyampaikan tentang RS-RS rujukan Covid-19 di Surabaya yang satu sama lain berbeda kondisi dan fasilitasnya. ”

Hal yang bikin heboh, Aditya juga mengunggah kritik bernada nyinyir yang jalan Pemkot Surabaya. Menyertai foto sebuah surat edaran tentang imbauan pemakaian APD di seluruh rumah sakit, ia menuliskan kalimat: “Kita dapet edaran ginian. Tapi ga dibantu sama sekali dari pemkot. Dapetnya dari pemprov. ” Ia biar menyebut bantuan dari Pemkot Surabaya hanya telur rebus dan wedang jahe.

Pemkot Surabaya pun langsung menanggapi informasi sepihak yang diunggah Aditya di akun Twitternya itu. Koordinator Protokol Koneksi Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Surabaya, Muhammad Fikser, menyayangkan unggahan tersebut. Menurutnya, unggahan itu bisa berdampak buruk pada persepsi bangsa terhadap tenaga medis di Surabaya.

Partner Sindikasi Konten: Viva

Gregory Jenkins