Site Loader
PLN Buka-Bukaan Soal Lonjakan Tagihan Listrik, Ini Lho Sebabnya!

WE Online, Jakarta

Terkait adanya sejumlah pelanggan yang mengalami lonjakan tagihan atau tagihan listrik tak sesuai dengan kWh meter, PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) menegaskan tidak ada kebijakan kenaikan tarif maupun tidak ada subsidi silang

Executive Vice President Corporate communication & CSR PLN, Agung Murdifi, menyampaikan bahwa adanya kenaikan dakwaan berkaitan dengan adanya penambahan dari sisa relaksasi pada bulan sebelumnya. Meski demikian PLN akan melangsungkan pemeriksaan lebih lanjut terhadap urusan yang terjadi.

Baca Juga: KPPU Putuskan Bersalah, Grab: Kami Sesalkan & Bakal Ajukan Banding

“Jika dilihat dari historis pemakaian pelanggan sebelumnya, kemungkinan besar, kenaikan karena sisa cicilan dari dakwaan bulan lalu yang memang belum terbayarkan, ” ujar Murfidi, (3/7/2020)

Adapun pada dakwaan bulan Juni 2020 kemarin, perlu melindungi konsumen dari kenaikan tagihan listrik akibat adanya perubahan sifat konsumsi listrik selama PSBB, PLN memberikan solusi melalui kebijakan relaksasi.

Skema ini menggunakan pola 40 persen dari kelainan tagihan bulan sebelumnya saat memakai perhitungan rata-rata pemakaian 3 bulan. Kemudian 60 persen sisanya dibayarkan dengan cara dicicil pada 3 bulan selanjutnya yakni juli, Agustus dan September, masing-masing 20 upah dari selisih tagihan listrik yang belum dibayarkan sebelumnya.

Baca Juga: Berikut Jalan Dapatkan Listrik Gratis dan Sumbangan

Untuk menjawab pertanyaan beberapa pelanggan, Murfidi menjelaskan perhitungannya sebagai berikut.

1. Pelanggan IDPel 54660136xxxx arah nama XY
Karena COVID-19, bulan April (Rekening Mei 2020) dibaca rata-rata kWhnya 3 kamar terakhir (82 kWh + 79 kWh + 93 kWh) dibagi 3 = 84 kWh atau sebesar Rp 113. 568

2. Bulan Mei dibaca petugas langsung di lokasi konsumen dengan pemakaian naik sebesar 373 kWh, sehingga tagihan melonjak serta seharusnya yang mesti dibayar ialah sebesar Rp504. 296. Naik sebesar Rp 390. 728 dari dakwaan bulan Mei, atau naik 344 persen.

Menangkap Juga: Harga Gas Industri Mendarat, PLN Ngehemat Rp6, 45 Miliar Per Hari

3. Pelanggan tersebut pada dakwaan Juni 2020 memperoleh relaksasi sebesar 40 persen, Rp 390. 728 x 40 persen = Rp 156. 291 sehingga tagihan pelanggan hanya sebesar = Rp 113. 568 + Rp 156. 291 = Rp 269. 859. Abu 60 persen akan ditambahkan ke tagihan bulan Juli, Agustus dan September, masing-masing sebesar 20 tip atau Rp 78. 146 pada setiap bulannya.

4. Kamar Juni petugas tetap membaca di lokasi pelanggan dan tercatat penggunaan pelanggan sebesar 208 kWh, sedang lebih besar dibanding sebelum tersedia COVID-19 bulan Maret dan bulan sebelumnya, dengan tagihan sesungguhnya sejumlah 208 kWh x Rp 1352/kWh = Rp 281. 216. Tetapi ada tambahan cicilan relaksasi jadi tagihan Juli menjadi Rp 281. 216 + Rp 78. 146 = Rp 359. 362.

5. Jika ditambahkan secara Pajak Penerangan Jalan (PPJ) sejumlah 3 persen dari tagihan pra penambahan relaksasi, atau 3 komisi x Rp 281. 216 = 8. 436, maka tagihan mutlak sebesar Rp 367. 798.

6. Besaran PPJ tiap daerah berbeda, tergantung penetapan Pemda setempat

7. Historis pemakaian, tagihan dan fotobaca meter bulan Juni pelanggan yang bersentuhan sudah sesuai dengan angka stand di meter lokasi pelanggan.

Lebih lanjut, sebagai bentuk respons PLN terhadap keluhan konsumen, PLN telah membuka posko dakwaan PLN yang dapat diakses oleh masyarakat, yakni melalui CC 123, yang kemudian dari aduan tersebut akan langsung di tindak lanjuti dengan call back dan hadir kerumah pelanggan.

Masa ini Posko Informasi Tagihan Listrik berada di Kantor Pusat PLN, dan diseluruh cabang PLN, Tersedia sejumlah 173 posko PLN UP3, 856 posko PLN ULP, satu posko PLN PUSAT, CC123, & CC 123 juga bisa diakses melalu medsos resmi PLN yakni IG: @pln123_official, FB: PLN 123, Twitter: pln_123.

Gregory Jenkins