Site Loader
Pengusaha Zaman Now Tak Lagi Andalkan Bisnis Keluarga

WE Online, Jakarta semrawut

Jumlah model bisnis keluarga multigenerasi di wilayah Asia diperkirakan akan menurun, berdasarkan inspeksi terbaru yang digelar Sun Life Financial Inc. dengan melibatkan lebih dari 240 keluarga pengusaha dalam Indonesia, dan 1. 300 puak di wilayah Asia.

Riset ini mengungkap perubahan jalan pandang dari generasi pertama pemilik bisnis di Indonesia – masa lebih dari 70% pengusaha bujang yang disurvei percaya di kala depan, akan semakin sedikit gaya bisnis keluarga, dan setengahnya menetapkan menjual bisnis yang mereka membuat, dibanding meneruskannya kepada generasi selanjutnya.

Survei Sun Life berjudul “Future of Family Businesses in Asia” juga menemukan kalau kehadiran pandemi COVID-19 telah menimbulkan daya saing dari para pengusaha muda, mengingat persiapan mereka kepada tantangan dan disrupsi bisnis yang tak terduga masih sangat kurang.

Riset ini dirancang untuk mengungkap bagaimana para pembuat (founder) usaha saat ini mengoperasikan bisnis mereka. Hal ini tampak dari bagaimana persepsi dan simpulan mereka terhadap risiko; rencana masa pensiun dan suksesi bisnis mereka; serta pandangan terhadap model usaha keluarga di dekade selanjutnya.

Baca Juga: Suara Dagang Berlaku, Pebisnis Segera Manfaatkan Peluang Ya

“Bisnis keluarga adalah fondasi daripada ekonomi di Asia. Terdapat sejumlah manfaat dari model bisnis puak yang dijalankan di wilayah tersebut. Namun pengusaha yang berusia bertambah muda memiliki pandangan yang berbeda terkait masa depan bisnis mereka. Kalangan ini cenderung membangun usaha dengan cepat, menjualnya, dan lalu mengambil pensiun dini, dibanding meneruskan bisnis ke anggota keluarga, seperti yang selama ini dilakukan, ” jelas Elin Waty, Presiden Eksekutif Sun Life Indonesia dalam keterangannya di Jakarta, akhir pekan ini.

Dia menuturkan, pemilik bisnis keluarga di Indonesia putus akan keunggulan dari model usaha keluarga, namun memiliki pandangan berbeda terhadap prospek bisnis ini pada masa depan.

Lebih dari 60% pemilik bisnis akur model bisnis keluarga memiliki penuh keunggulan, termasuk komitmen manajemen terhadap perusahaan (65%), dan kemampuan buat melihat peluang bisnis dalam jangka panjang (63%). Sebagian besar membenarkan bisnis keluarga akan menjadi semakin kompetitif (79%), serta menghasilkan lebih banyak inovasi teknologi dan bisnis di masa depan (73%), ” jelas Elin.

Tetapi, lanjutnya, pengusaha muda percaya cara bisnis ini akan berubah. Sebagian besar pengusaha rintisan (74%) & pengusaha berkembang (70%) memperkirakan total bisnis keluarga akan menurun, karena di masa depan, akan mulai banyak kalangan profesional dari luar suku yang akan dipercaya untuk membandingkan bisnis mereka.

“Sedangkan hanya 14% pengusaha matang tahu pola seperti ini diterapkan di dalam beberapa tahun ke depan, ” ucap Elin.

Lebih lanjut, lebih dari 60% pengusaha rintisan dan berkembang percaya, mau ada lebih banyak pendiri (founder) usaha yang memilih untuk menjual bisnis mereka sebelum pensiun, dibanding meneruskan bisnisnya kepada anak mereka.

Adapun survei digelar pada Desember 2019 dan lulus mengumpulkan tanggapan dari 1. 378 pemilik bisnis di 6 daerah: Indonesia, Hong Kong, Malaysia, Filipina, Singapura dan Vietnam. Kategori itu dibagi menjadi: usaha rintisan/startup (0-5 tahun), perusahaan berkembang (6-10 tahun) dan perusahaan matang (lebih daripada 10 tahun).

Gregory Jenkins