Site Loader
Nanti BPOM, Muhammadiyah: Wajar Jika Sedang Ragu, Lambat Laun Publik Sadar Pentingnya Vaksinasi

Vaksin Covid-19 Sinovac yang dibuat Sinovac Lifescience China telah diverifikasi halal oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI). Meski begitu, masih penuh masyarakat yang ragu untuk melakukan vaksinasi.

Ketua Ijmal PP Muhammadiyah, KH Dadang Kahmad, mengatakan keraguan masyarakat untuk melaksanakan vaksinasi merupakan suatu yang adil, mengingat kurangnya informasi dan semakin banyaknya berita miring terkait vaksin. Hal itu tentu semakin meningkatkan kebimbangan masyarakat untuk mengambil vaksin.

“Saya akan mengimbau (masyarakat) untuk menunggu keputusan BPOM sebagaimana pernyataan MUI, ” kata pendahuluan KH Dadang Kahmad saat dihubungi pada Minggu, 10 Januari 2021.

“Wajar masyarakat belum mengerti akan pentingnya vaksinasi, bisa dikarenakan kurangnya keterangan maupun banyaknya berita hoaks yang membuat bingung masyarakat, ” ujarnya menambahkan.

Namun dia meyakini, lambat laun keyakinan akan vaksin akan muncul di tengah-tengah masyarakat. Terlebih telah banyaknya penguasa negara dan tokoh masyarakat yang telah melakukan vaksinasi.

“Oleh karena itu menurut hamba kalau sudah dimulai vaksinasi lambat laun masyarakat akan menyadari pentingnya vaksinasi, apalagi yang sudah divaksin petinggi negeri dan para aktivis masyarakat baik nasional maupun tokoh keagamaan, ” ujarnya.

Majelis Ulama Indonesia menyatakan, vaksin Covid-19 Sinovac yang diproduksi Sinovac Lifescience China yang diajukan Biofarma hukumnya suci dan halal. Hendak tetapi, soal kebolehan dan ketayiban vaksinasinya, dikembalikan pada Badan Kepala Obat dan Makanan (BPOM).

Keputusan tersebut diambil meniti sidang tertutup Komisi Fatwa MUI di Jakarta, Jumat (8/1). Buatan sidang dibacakan secara langsung sebab Ketua MUI Bidang Fatwa KH Asrorun Ni’am Sholeh didampingi Ketua Komisi Fatwa MUI, Prof Hasanuddin AF, dan Direktur LPPOM MUI, Ir Muti Arintawati, MSi.

Menurut Ajengan Asrorun Niam, meskipun sudah legal dan suci, fatwa MUI belum final karena masih menunggu kesimpulan BPOM terkait keamanan ( safety ), kualitas ( quality ), dan kemanjuran ( efficacy ). “Akan tetapi, terkait keterampilan penggunaannya, ini sangat terkait dengan keputusan mengenai aspek keamanan, kualitas, dan efficacy BPOM. Ini bakal menunggu hasil final ketayibannya. Pedoman utuhnya akan disampaikan setelah BPOM menyampaikan mengenai aspek keamanan buat digunakan, apakah aman atau tak, maka fatwa akan melihat, ” ujarnya.

Lihat Sumber Artikel di Republika Disclaimer: Artikel ini merupakan kerja sama Warta Ekonomi dengan Republika. Hal yang terkait dengan gubahan, foto, grafis, video, dan keseluruhan isi artikel menjadi tanggung pikiran Republika.

Gregory Jenkins