Site Loader
70-eks-pejabat-presiden-bush-resign-dari-republik-orang-pemerintah-jadi-partai-pemuja-trump-1

Puluhan mantan pejabat kurun pemerintahan Presiden Amerika Serikat (AS) George W. Bush keluar daripada Partai Republik. Mereka kecewa di kegagalan anggota partai yang tak mengecam Donald Trump terutama sudah klaim-klaim palsu sang mantan Kepala AS mengenai kecurangan pemilu 2020. Terlebih, klaim-klaim tersebut diduga siap pemicu serangan masyarakat sipil ke Capitol Hill bulan lalu.

Para anggota Partai Republik yang keluar termasuk mantan penguasa tinggi pemerintahan Bush. Mereka mengucapkan sempat berharap kekalahan Trump bisa menggerakan pemimpin partai untuk menjauh dari pengusaha real-estate itu serta mengecam klaim-klaim palsunya.

Baca Juga: 5 Pengacaranya Mundur, Trump Angkat 2 Pengaruh Hukum Baru Urus Pemakzulan

Tetapi sebagian besar anggota parlemen dari Partai Republik masih berpihak pada Trump. Para mantan pejabat itu mengatakan mereka sudah tidak teristimewa mengenal partai mereka sendiri. Sebesar mantan pejabat keluar dari kedudukan partai sementara yang lainnya mendaftarkan diri sebagai independen.

“Partai Republik yang saya kenal sudah tidak ada lagi, saya menyebutnya kelompok pemujaan Trump, ” kata mantan Wakil Menteri Keuangan bidang Terorisme dan Intelijen Finansial pemerintahan Trump, Jimmy Gurul√©, Senin (1/2/2021).

Mantan penguasa komunikasi Gedung Putih pemerintahan Bush, Kristopher Purcell mengatakan, sekitar 60 hingga 70 mantan pejabat tadbir Bush memutuskan keluar atau membatalkan hubungan dengan Partai Republik.

“Setiap hari jumlahnya tetap bertambah, ” kata Purcell.

Banyak di antara mantan pejabat itu sudah mengabdi selama puluhan tahun di Partai Republik. Banyaknya jumlah pembelot menunjukkan tumbuhnya konflik di dalam partai & bagaimana warisan Trump memecah mengacaukan partai tersebut.

Golongan itu kini berisi dua grup, satu kelompok moderat atau mandiri yang muak dengan cengkraman Trump pada pejabat terpilih dan dalam pendukung setianya di Partai Republik. Berdasarkan jajak pendapat serta pemberitahuan dari petinggi partai dan spesialis perpecahan itu akan menyulitkan Kelompok Republik memenangkan pemilihan nasional.

Perwakilan Trump tidak menanggapi permintaan komentar mengenai hal ini. Perwakilan pejabat-pejabat pemerintahan Bush serupa belum menanggapi permintaan komentar. Semasa Trump berkuasa, Bush membuat maklumat yang jelas untuk ‘pensiun sebab politik’.

Beberapa jam sebelum pendukung Trump menyerang Capitol Hill. Lebih dari setengah anggota Partai Republik di Kongres yakin delapan orang Senator dan 139 anggota House of Representative mengangkat untuk menolak meresmikan kemenangan Kepala Joe Biden.

Sebagian besar Senator Partai Republik pula mengindikasi tidak akan mendukung pemakzulan Trump sehingga belum dapat diperkirakan apakah mantan presiden itu bersalah dalam sidang di Senat. Di dalam 13 Januari lalu House menggugat Trump ‘menghasut pemberontakan’.

Sidang pemakzulan 9 Februari mendatang membuat Trump satu-satunya presiden pada sejarah Amerika yang dua kali dimakzulkan. Keengganan pemimpin partai mengecam Trump menjadi dorongan terakhir bekas pejabat Partai Republik meninggalkan golongan tersebut.

“Jika terus menjadi partainya Trump, banyak dari kami yang tak akan kembali kecuali bila Senat memvonisnya bersalah dan menyingkirkan kanker Trump dari diri mereka tunggal, banyak dari kami tidak mau kembali memilih pemimpin Partai Republik, ” kata mantan Treasurer of the United States atau Gajah Negara pemerintahan Bush, Rosario Marin.

Menentang Sumber Artikel di Republika Disclaimer: Artikel ini merupakan kerja pas Warta Ekonomi dengan Republika. Peristiwa yang terkait dengan tulisan, foto, grafis, video, dan keseluruhan kandungan artikel menjadi tanggung jawab Republika.

Gregory Jenkins